28.5.26

Maal Allah

Catatan dari tahun ketiga berqurban bersama suami


Kemarin kami keliling Jeddah. Dari selatan ke utara, dari ujung ke ujung kota ini — menerima dan membagikan daging qurban untuk ketiga kalinya sejak kami menikah.

Aku baru mendengarnya kemarin malam — sesuatu yang selama ini aku simpan sendiri, yang rasanya terlalu besar untuk diucapkan. Bahwa sejak menikah, kami selalu berhasil berqurban. Setiap tahun. Tanpa pernah absen.

Dan siang ini aku mendengar kelanjutannya, dalam bahasa yang lebih penuh:

Aku tidak hanya memotong qurban untuk diriku sendiri. Tapi untuk suamiku, dan untuk Wawung — orang yang paling pertama mengajariku apa artinya menjadi bagian dari rumah yang berqurban. Setiap tahun. Sejak menikah.

Itu artinya, setiap tahun sejak aku berumah tangga, aku menangani مال الله — harta Allah. Harta yang paling sakral di antara yang kasat mata. Bukan harta yang ditabung dan dizakati, tapi yang dipotong dan dibagi-bagikan. Mana ada orang yang menangani مال الله lalu hidupnya miskin? Dalam makna apa pun "miskin" itu diartikan.


Tentang Wawung

Wawung berpulang sekitar seminggu sebelum Lebaran Idul Adha.

Aku ingat pagi Lebaran itu — dalam ketidaksadaran antara tidur dan jaga, antara gegar kehilangan tak terperi, aku mendengar namaku disebut di antara para Penjaga. Qurbannya Pak Kyai, ada yang untuk A., untuk L., untuk D., untuk orangtuanya.

Pelan. Privat. Bukan untuk telinga orang ramai.

Aku ingin bertanya kepada L. dan D. tentang ini suatu hari nanti. Tapi aku yakin tentang bagianku dari qurban terakhir yang Wawung persembahkan. Tidak pernah diumumkan di antara yang hidup. Hanya sebuah knowing — sebuah tahu yang diam.

Dan aku bertanya-tanya, berapa tahun sebenarnya ia berqurban atas namaku. Aku senang membayangkan bahwa beliau melakukannya setiap tahun selama aku tinggal di rumahnya. Atau mungkin sejak pertama kali ia mengenalku, waktu aku masih tujuh tahun. Aku tidak tahu.

Yang aku tahu: rasanya tidak terpikirkan bagiku untuk berqurban tanpa menyertakan Wawung. Dan karena suamiku adalah bagian dari hidupku — satu unit, harus barengan, tidak bisa dipisah-pisah — ia pun harus ada dalam qurban itu. Mending tidak beli gadget baru, mending kurangi jajan, daripada tidak berqurban.


Harga Seekor Kambing

Aku sempat memasang anggaran SR 3.000, dengan asumsi seekor kambing seharga SR 1.000. Tapi di sini, di kota ini, ada kambing qurban seharga SR 700.

Murah? Iya. Bukan yang SR 2.000 per ekor yang gemuk dan gagah. Tapi kalau tiga ekor dikalikan... kalau hitungannya bukan harga tapi kemuliaan... kalau mikirnya ini offering kita untuk Tuhan, untuk Wawung — apa artinya "sederhana"?

Kami mampunya segini, sekarang. Insyaallah tahun-tahun mendatang bisa sapi.

Dan dari situ mulailah aku berkhayal. Membayangkan membeli seekor sapi. Mengajak patungan empat anggota keluarga. Membagi 150–200 kilogram daging kepada sekian orang. Masya Allah. Kenyangnya pasti lama. Bahkan dari tiga ekor kambing saja, rasanya kenyang sampai ke sumsum — sampai gemetar.

Apalagi kalau sapi.


مال الله

Ada hadits yang menyebut bahwa tidak ada amalan anak Adam di hari Idul Adha yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah qurban. ما عمل ابن آدم يوم النحر عملاً أحبَّ إلى الله من إهراق الدم.

Bukan karena Allah butuh dagingnya, atau darahnya. Al-Qur'an sendiri sudah menegaskan itu: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ — yang sampai kepada Allah bukan dagingnya, bukan darahnya, tapi ketakwaan yang ada di balik itu semua (QS. Al-Hajj: 37).

Yang sampai ke Tuhan adalah niat. Adalah cara kita merelakan sesuatu yang hidup demi kesenangan bersama — demi melancarkan ibadah umat, menjadi media rahmatan lil alamin.

Nabungnya dengan niat. Membayarnya dengan bismillah. Ada yang menyembelihnya sambil menangis. Menerimanya dengan restu. Membagikannya dengan sebaik-baiknya prasangka terhadap Allah.

Dan ya — ada orang yang pernah menerima bagian yang kami antar sendiri ke pintunya, lalu nyinyir. "Alaah, cuma segini. Dagingnya pahit."

Tetap saja kami bagikan. Tetap saja kami berbaik sangka pada Allah. Karena saat berbagi itu, rasanya bukan kami yang memberi ke orang — tapi memberi ke Tuhan. ربنا تقبل منا.


Harta Batin

Setelah menulis semua ini, sambil menangis, aku minta dipeluk suami.

Dan dalam pelukan itu, kami seperti berhitung diam-diam — bukan harta material, yang memang ya segitu-gitu saja: cukup untuk sehari-hari, makan, sewa rumah, isi bensin. 

Kami berhitung harta batin.

Aku pernah membaca bahwa kesenangan dari pencapaian material — membeli barang yang lama diinginkan, memenangkan sesuatu, menyantap makanan yang enak — rata-rata bertahan 2,5 jam. Sesusah apa pun perjuangannya, kesenangan itu singkat. Besok lapar lagi. Besok FOMO lagi. Karena memang itulah hukum alam yang kasat mata: semua yang bisa diindera ada masa berlakunya.

Tapi uang untuk qurban rasanya lain.

Dari semua yang pernah kami beli, dari semua yang pernah kami inginkan — adakah yang bisa menghadirkan haru-biru sampai lintas dimensi? Adakah yang membuat kami gemetar seperti ini, kenyang seperti ini, merasa sekaya-kayanya orang seperti ini?

Tidak ada yang menyaingi perasaan itu.


Aku menulis ini karena ingin ingat.

Aku mempublikasikan ini karena ingin kamu juga merasakan apa artinya menjadi sekaya-kayanya orang — bukan dalam ukuran rekening, tapi dalam ukuran hati. Ingin kamu bayangkan rasanya sedekat itu, sedisayang itu sama Allah. Sampai Dia sendiri yang mengusap harumu dari dalam.

اللهم فاشهد.

Maal Allah

Catatan dari tahun ketiga berqurban bersama suami Kemarin kami keliling Jeddah. Dari selatan ke utara, dari ujung ke ujung kota ini — mene...