23.4.10

Apa rasanya…

…jadi Cina di Glodok, tahun ‘98?

…jadi Madura di Sampit?

…jadi beragama Kristen/Islam di Poso?

…jadi melihat keluarga sendiri disembelihi di perang Paderi?

…jadi raja Hindu yang digusur agama baru sampai ke Bali?

…tumbuh-kembang tak pernah mengetahui rasanya jadi bangsa yang tertekan? Beruntung karena selamat, apa sial karena lupa?

22.4.10

Ras

Margi pernah mengeluh di blognya tentang kecinaannya yang nanggung. Kalau di radio Elshinta, rasanya hampir tidak pernah kita mendengar istilah CINA. Biasanya diperhalus: “warga keturunan”, China (baca: cay-na), Chinese atau Tiongkok.

Mungkin padanan Saudinya adalah sebutan “Hindi” atau “Jawa”; sama perihnya seperti disebut “Cina” di Indonesia.

Tapi semua itu sih belom apa2. Bayangin orang yang asal-usulnya campur aduk: Madura, Sunda, Batak, Arab, Padang, dst. Di setiap desa homogen, orang dengan keturunan campur-aduk harus tebal muka, karena setiap sudut mukanya bisa dihina.

Itu kalau dipanggil menurut ras memang terasa menghina.

Karena bahasa (baik itu humor, ejekan maupun pujian) sangat kontekstual: tergantung siapa yang lempar-terima. Soalnya, kalau kita tersinggung dengan sebutan yang ditempelkan, baik itu berunsur SARA, IQ atau merek pakaian, yang reaksi kita mencerminkan kepercayaan diri kita sendiri.

Misalnya kita merasa terhina dengan sebutan tolol, ya artinya kita mengakui kebenaran sebutan itu. Jika merasa tersanjung saat dibilang mirip Bule atau cerdas, ya artinya identitas kita tergantung apa kata orang.

Makanya, jadilah seperti garam, dipuji atau dihina, tetap asin. Makanya peganganlah ama motto ini: Pantang dipuji, kebal dihina, bung.

Cina ya Cina. Jawa ya Jawa. Botak ya botak. Yang penting kan tetap asin.

PS: Umumnya manusia, tak sayang karena tak kenal.

16.4.10

Pencerahan, menurut siapa?

Si penggores iman pernah bilang, jin bertanduk itu kagak ada!!

Masalahnya, kalau saya bilang ke dia, "Sini deh bung, ada caranya untuk melihat jin bertanduk itu, asal sampean mau ngeliatnya. Mau?"

Keruan, orang-orang seperti dia bakalan ngetawain saya rame-rame, ngatain saya absurd & harus cepat-cepat didaftarin ke RSJ. Saya bisa (berusaha) membela diri dengan bilang, bahwa yang melihat jin bukan cuma satu dua orang saja.

Dan dengan gampang dia bisa bilang, itu namanya histeria massal!!

===Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ===

Contoh lainnya, waktu Lia Aminuddin menerima tugas nubuat, kita beramai-ramai mengatai mereka gila (oh, ya, termasuk saya). Padahal, kebanyakan anggota Salamullah yang cerdas & berwawasan luas justru mengasihani kita -- yang sok pintar dengan keyakinan kita masing2.

Saya dekat dengan salah satu anggotanya (dari sebelum dia masuk sekte itu), pernah menghadiri sidangnya di Jl.MalGajahMada, pernah cengar-cengir waktu digunjingi wartawan "Kasian deh si neng itu, cakep tapi sesat."

Seandainya lalu saya teriak2 membela diri: "Nggak kok! Saya pemeluk AgamaFulan tulen, saya di jalan yang benar!" -- yang ada hubungan saya dengan teman saya itu akan baret, dan telinga saya akan berdarah diceramahi. Haha.

===Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ===

Alkisah, Sang Buddha, waktu pulang dari meditasi yang mengantarkan pencerahan kepadanya mikir, "Beginian kagak bisa diajarin."

GusDur pun pernah bilang bahwa, agama tidak perlu dibela. Tuhan tidak butuh pembelaan. Nabi yang selama masa tugasnya dikatai gila, penipu, tukang sihir dsb, tidak butuh pembelaan kita hare gene.

Karena mau dikatai apapun, yang benar ya benar. Mau percaya atau tidak, garam akan tetap asin. Tidak butuh pembelaan atau pembuktian.

Cukup kita yang mau mencobanya sendiri atau tidak.

Cukup kita nanya sama diri sendiri: kita ini nyarinya pencerahan macam & untuk apa?

7.4.10

Kuper

Ben memperhalusnya dalam kalimat: Terlalu terpaku dalam kepala sendiri. Tidak bisa menghadapai lebih dari satu orang setiap kali pertemuan. Intinya sih sama: Kurang Pergaulan, alias KuPer.

Salam kenal, pembaca, penulis blog ini adalah manusia yang sangat kuper. Nerdy. Seperti petasan di SPBU; tidak ada yang bisa memperkirakan kapan percikannya akan menyulut kebakaran.

Makanya, semakin sadar diri (a.k.a. paranoid), semakin malas pula bergaul dengan orang asing. Apalagi untuk sekedar basa-basi. Resiko tak sebanding dengan usaha, man. Resiko untuk mempermalukan diri sendiri di depan khayalak terlalu besar dibanding tidur nyenyak tak resah: “Aku tadi salah omong apa ya?”

Terus, mau diapain cacat sosial ini?

Ada tiga pilihan:

  1. Belajar bergaul. Belajar kode-kode etik bersosial. Belajar cengar-cengir kesana-kemari.

    RESIKO: Keenakan menawan hati orang, sampai ga mau pulang ke persemedian lagi.

  2. Atau biarkan saja jadi manusia kuper. Nanti kalau udah ga bisa ditawar lagi, mau nggak mau bakalan harus belajar.

    RESIKO: Telat belajar, lebih sering ditertawakan orang sampai bisa.

  3. Pakai gimmick. "Iya, saking demam panggung sampai nyanyi di kakus aja takut didengar orang. Tapi CAKEP KAN?"

    RESIKO: Kalau lagi ga bawa gimmick mau nari hula?

Halah…Gini aja kok repot sih?

Aku senang hidup dalam kepalaku. Selama cacat sosial tersebut masih bisa diakalin dengan sembunyi terus, kenapa tidak?

Ya, ya, ada saatnya aku akan terpaksa menghadapi masyarakat. Dan saat itu terjadi, akan ada orang2 seperti Ben yang dengan penuh kasihan dan kasih sayang mengingatkan: “Tangan yang diulurkan itu untuk dijabat, Neng.”

26.3.10

Dikunjungi Tuhan

Mari berbalas kunjungan dengan Tuhan. Tuhan ke rumah kita, kita ke rumahNya.

Rumah Tuhan sih jelas² apik. Saban ke sana rasanya betah-krasan. Adem-anyem. Rumah Tuhan lapang lega, semua orang muat, semua amal tercatat, semua suguhan maknyus.

Rumah kita? Waduh, malunya.

Padahal Tuhan ingin berkunjung. Untuk menghormati kunjungan kita ke RumahNya. Untuk menilik, apa kabar ciptaan di rumahnya. Tapi rumah kita kecil, sempit,. Gentengnya bocor, ubinnya retak, debunya numpuk.

Suatu hari, karena kelamaan ga diundang² juga ke rumah kita, Tuhan nitip telegram lewat hujan & banjir. “Sop, lu masih inget Gue ga sih? Masih sayang Gue ga sih?”

Sambil nimba air yang masuk ke dalam rumah, kita balas telegram Tuhan. “Han, rumahku lagi acak adul gini. Masih mau ke sini?”

Tuhan pun datang, “Lagi acak adul aja Aku datang, apalagi kalau lagi rapi resik. Aku dimana kamu memanggilKu.”


Update: Diceritakan kembali di sini.

25.3.10

Cari Tuhan

Mencari. Tuhan. Istilah itu rasanya aneh banget.

Perlukah kita mencari Tuhan? Bukankah Tuhan nggak kemana-mana? Bukankah Tuhan ga perlu dicari?

Karena Tuhan ada di sini, dimana kita rela bersujud, serah diri.

Kenapa sampai harus dicari di buku, di agama, di Mekkah & Yerusalem? Kenapa kita kesulitan menata jadwal untuk bertemu denganNya?

Kecuali…Jangan-jangan tuhanmu bukan Tuhan beneran sampai harus dicari-cari seperti pacar, HP dan rejeki.

Uff!!

15.3.10

Sampai mana?

Mau ngapain kerja NGO? Semua duit yang berputar di NGO international datangnya dari umat gereja.

Yah, bapak pendidikannya cuma sampai agama Islam aja sih.

Katolik itu ngaco, tau! Mereka mengira dengan membayar uskup aja bisa beli tempat di surga.

Apa bedanya dengan konsep Zakat dan sedekah? Intinya kan sama: usaha membeli restu Tuhan.

Jadi kamu mau masuk agama mereka?

Jauh dari itu. Makin yakin dengan Islam, tapi juga memaklumi (dimana dan bagaimana) inti dari semua agama itu sama. Tuhan kita satu, Pak.

Kamu terlalu banyak mempelajari yang tidak penting!

Ye, bapak ngajarinnya sambil marah-marah. Siapa juga penasaran: Apa iya, segitunya?

Maal Allah

Catatan dari tahun ketiga berqurban bersama suami Kemarin kami keliling Jeddah. Dari selatan ke utara, dari ujung ke ujung kota ini — mene...