21.11.10

satu maupun lainnya

Aku nulis ini di mobil. Lagi di jalan ke Jakarta. Berdua aja ama Udi, supir/ajudan dr jaman kita masih anak2.

Rencananya mau main. Ketemu teman yg datang dari Jeddah. Tiga hari. Dikasih mobil. Duit sekarung. Terus didoakan selamat sampai pulang.

Aku melamun. Gila, enak bener. Kerja ga punya. Keluar rumah sebulan sekali. Gaji udah lama ga megang. Tapi sekalinya ngeluyur, nongkrongnya di Jakarta Selatan. Mainannya haitek.

Udi: "Puas kan, mbak?"

Iya. Puas lahir batin. Tapi kalau dibandingkan...Katakanlah dibandingkan dengan teman-teman sebaya. Aku tekor banget: Ga bisa ngasih status pekerjaan tanpa dibilang bohong. Minimal ditertawakan. Tidak bisa nampang. Saat dijejerin sama kongkowanku, paling cepet dilewatin sales. Hahaha..

Udi mbletakin kepalaku. "Mbak, saya makan aja susah!"

Iya. Iya. Aku paham. Makanya ini juga aku lagi mikir. Seandainya aku punya karir di Jakarta, mungkin ga bisa bawa duit sekarung pas Sharifa & suaminya ke Jakarta. Atau enak aja nemenin Rifu pas dia ke Bali. Atau hadirin kawinannya Ade di Jeddah.

Seandainya aku jadi ibu rumah tangga juga mungkin pertimbangannya udah lain lagi. Seandainya jadi penulis pro, yang dibaca ribuan orang (daripada selusin) mungkin ga bisa nulis ringan gini. Paham maksudku?

Udi: "Yah, siapa tahu, mbak. Tahun ini gini, tahun depan kan lain lagi."

Iya, juga sih. Tapi kalaupun tahun depan berubah, nanti akan ketemu lagi enaknya, ketemu lagi nggak enaknya juga kan? Mau hidup yang gaya apa aja juga begitu, kan? Ada enaknya, ada ngga enaknya juga.

"Semoga semua yang mbak pengenin datang semua suatu hari nanti."

Amin. Tapi yg lebih penting lagi, apapun yg dikasih nantinya, semoga rasa syukur ini ga berkurang. Karena kita tidak tahu, mungkin apa yg kita pengenin bukan yg terbaik untuk...'Di, minggir bentar deh.

"Kenapa, sambungan BBnya kacau? Posting nanti sajalah, mbak. Kita lagi di tol. Gelap tauk!"

Bukan. Aku mabuk darat nulis sambil jalan...cepat...mingg..

*bunyipenuliskampunganmuntahdimobil*

10.11.10

Job Hazard

Dude just met a girl. They went home together and a while after start to make love.

When the dude enters her, he pumps for exactly 30 seconds. Then suddenly, he pulls completely out, rolls off, and lay beside her for 20 seconds.

Then he rolls back on.

He enters his woman. Starts making love for exactly 30 seconds, withdraws, rolls off, and takes his 20 second break.

After a few repeats, his woman started getting frustrated. "What the hell is the matter with you?"

He said, "Work reflex. My body does this all day at work."

And what is it that you do?

"Ngemis di lampu merah."

__________________________________________
Footnote:
1. Pengemis lampu merah boso enggrese opo?
2. Karya asli.
3. Ini adalah posting pertama dari Blackberry.

30.10.10

Badal

Saints are sinners who kept on going.  ~Robert Louis Stevenson Karena kerjanya sebagai tukang becak, dipotong biaya hidup sehari-hari untuk sekeluarga, setelah menggenjot selama dua tahun baru terkumpul: Kisaran lima juta keatas, sepuluh juta ke bawah.

Uang itu dibawa ke kyainya. “Tolong sampaikan pada orang-orang di Mekkah untuk menunaikan haji atasnama almarhum ayah saya.”

Haji ini namanya Haji Badal. Badal artinya subtitut/pengganti. Jika pahala yang menghajikan adalah uang badal yang diterimanya, pahala yang dihajikan adalah kesejahteraan di alam sana. Lalu apa pahala yang telah membecak selama dua tahun?

Logika langsung protes. Daripada uang sebanyak itu buat menghajikan orang yang sudah tidak butuh makan, minum dan merokok, kenapa tidak dibelikan buku, bata, atau beras? Kenapa malah dihamburkan tak berbekas?

Apa jaminannya di alam sana arwah bakalan lebih sejahtera dengan haji badal? Apa jaminannya Tuhan masih ada?

*****

Waktu orang-orang di Mekkah ditawarkan proyek haji badal ini, mereka nanya, “Untuk siapa? Uangnya halal apa tidak?” (Karena syaratnya haji adalah kemampuan. Maka uang yang dipakai untuk haji akan diaudit perjalanan: uang bersih meringankan, uang takjelas memberatkan.)

Uang itu dekil dan bau; endapan keringat membecak selama dua tahun. Bukannya diterima, mereka malah tersindir. “Halah, cuma duit segitu. Dibayar atau tidak, selagi kita masih melayani tamuNya, kita bakal terseret arus musimnya. Sekalian ihram dan niat tak akan memengaruhi. Kembalikan uang ini ke Jawa, biar hajinya dibayar dari ikhlas kami.”

*****

Ada yang bilang, uang halal tak kemana. Mungkin saking uang itu halal (juga bau dan dekil) sampai ditolak semua tangan.

Jika dikembalikan ke tukang becak tadi, kita seperti melecehkan usaha dan ikhlasannya. Dipaksakan ke tangan penghaji badal, kita meremehkan keikhlasan mereka juga.

Jadi?

Uang itu dibangunkan mesjid. Klise, tapi tak mengapa. Mesjid itu besok akan mengumpulkan umat yang masih mau mengaji dan sembahyang. Umat yang mengaji nantinya akan ada lagi yang seperti tukang becak tadi: kerja untuk mengumpulkan uang halal, daripada merampok atau meminta.

*****

Klise, tapi tak mengapa.

Lepas dari adanya hidup setelah mati apa tidak, lepas dari adatidaknya kesejahteraan di alam sana, bukankah badal surga di dunia adalah kebahagiaan yang lebih-kekal? Adakah badal kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sebaik sejahtera sehari-hari? Tidakkah badal itu cukup bagi seorang tukang becak, maupun hartawan, untuk terus memeras peluhnya, sebaik-baiknya?

Karena jika bukan hati yang lega, tidur yang lelap, perut yang terisi, badal apa lagi kita membuat kita ikhlas mendayung, memacul dan melangkah, meski kehujanan, kemacetan dan kebanjiran setiap hari?

Semoga peluhmu menyejukkan hatimu dan mereka yang di sekitarmu, setiap hari.

Amin.

23.9.10

Calm Despair


"There are certain periods in the life of man when Fate seems to have done her worst, and any further misfortunes which may befall are accepted with a philosophical resignation, begotten by the very severity of previous trials."



- Mystery of the Hansom Cab


21.9.10

Sendu

Pluralisme membuat semua gerakan jadi lambat.

Rasanya pluralisme memaksa jeda berpikir sebelum sempat bereaksi: kenapa ya begitu? Apa tafsirnya di Kitab-kitab? Apa tafsirnya tembus masa?

…karena ketika fakta mulai membulat, ketika faham mulai menjalar, biarpun sekilas tanpa seluruh, semuanya jadi lebih sedih. Bukan muram durja, bukan gelap indera atau ungu raung. Tapi sendu haru. Seakan pengertian datangnya hanya dari sedih yang tenang. Seperti nasihat yang diam.

Adakah nabi dan cinta agung dan raja adil yang tak sepi sendu?

Film Kehidupan

Teori Film Kehidupan

Daddy pungut pernah bilang, hidup manusia seperti filem bioskop. Kita yang menjalankan sekedar aktor pasif kehidupan masing-masing. Ga ada yang bisa dirubah. Begitu kita lahir, rol film itu udah selesai disutradarai, diproduksi, diedit, ditulis dan disegel disana-sini.

Kalau beruntung, kita bisa belajar untuk menikmati jalannya film kehidupan masing-masing. Kalau tidak, ya, sama saja. Filem itu tidak akan berubah.

=====
Contoh Kasus Film Kehidupan yang Nyangkut

Aku punya teman dari SMA. Warga negara Amerika yang untuk satu alasan maupun lainnya, nyangkut di Jeddah. Pikirkan variable kehidupannya: lelaki, warga negara Adikuasa, tapi ga bisa ambil keuntungan dari kewarganegaraannya. Ga bisa balik ke negrinya. Ga bisa menikah atau punya paspor baru. Ga bisa menyelesaikan IGCSE. Apalagi kuliah atau menekuni cita-cita. Dia seperti nggak ada di peta kewarganegaraan.

Cuma dua tahun di bawahku, tapi secara legal, profesional dan akademis nyangkut (mungkin untuk selamanya) di umur 18 tahun.

Ga kebayang berapa ratus mimpinya yang telah hinggap terus terbang ga berbekas. Ga kebayang apa rasanya jadi orang dalam posisinya. Memainkan filem kehidupan sepertinya.

Hebatnya, dia tetap baik, man. Dia tetap bakti sama orangtuanya. Dia tetap sayang sama adik-adiknya. Dia tetap sabar. Ga marah-marah. Aku ga pernah ngeliat dia kecuali dengan wajahnya yang paling hangat, paling bersahabat sama semua orang. Jangankan ngeliat mukanya, bahasa verbalnya aja halus dan sopan. Tipikal orang Amerika yang tumbuh di lingkungan berpendidikan. Cuma nyangkut di dunia yang tak mengakuinya.

Aku salut.

=======
Mungkin pilihan hidup kita cuma segitu: sekedar memilih untuk mau terima apa tidak.

Kalau mau terima, ya mungkin kerut-kerut di wajah akan berkurang, cahaya kehidupan lebih terang, dan orang lain akan lebih sayang. Sampai mati, orang-orang seperti temanku akan selalu dicintai orang. Bukan karena dia sukses atau gagal, bukan karena dia WNA atau PhD. Atau makna film hidupnya dapat kita mengerti.

Kalau tidak mau terima juga bisa, silahkan jegal kanan-kiri, silahkan menuntut yang lebih baik, sampai akhirnya kembali menyadari, Tuhan kita ga bisa diganti, dan kalimatNya adalah Yang Terjadi.

Dari mana kita tahu bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang ini berupa keberhasilan atau kegagalan? Bagaimana kita tahu bahwa filem kehidupan emang semestinya begini atau begitu?

Karena, pada akhirnya, mungkin perjuangan hidup kita semua adalah menerima apa yang sudah pasti. Berani mengiyakan pertanyaan ini: "Masak cuma segini?"

25.7.10

Cemburu

Lara

Kalau iri hati adalah dosa, apalagi cemburu. Kita cemburu karena takut kehilangan, takut kekurangan dan takut tak kebagian.

Cemburu dan iri kembar rasa. Bedanya, cemburu muncul dari ancaman pihak ketiga. Mottonya cemburu mungkin begini: "Kamu tidak boleh bahagia kecuali bersamaku." Sementara motonya iri lebih sederhana: Aku mau milikmu.

Herannya, di Timur Tengah cemburu adalah sikap ksatria.

Lilit

Di padang pasir, orang yang mencemburui pasangan dan keluarganya adalah orang-orang yang jauh dari sikap Dayyuthi: mirip babi yang tidak peduli pasangannya disetubuhi siapa.

Saking bebasnya lelaki Arab mencemburui perempuannya, sampai ditutupi seprai sepanjang hidupnya.

Kalau dipikirin, babi tidak merasa cemburu karena bisa makan apa saja. Anaknya banyak. Hidup enak. Mau ngapain cemburu?

Karena di Arab sumberdaya kehidupan susah direbut dicari, maka wajarlah cemburu dianggap sikap ksatria dan kode moral yang menjaga kelangsungan hidup di sana.

Lepas

Tapi di sini? Di negri di mana perempuan dan lelaki bisa sama-sama cari makan, beli rumah, jadi manusia seutuhnya. Di negri di mana sumber daya kehidupan hampir tumpah ruah. Di negeri yang rakyatnya buanyak bnuanget. Apa masih perlu kita menghalalkan cemburu?

Kecuali teman kita sedikit, penggemar kita jarang, dan pergaulan kita dangkal, apa masih perlu kita merasa cemburu? Apa salahnya orang lain kalau sikap sosial kita kita yang katro?

Lipat

Karena cemburu disebabkan hati yang miskin, maka obatnya juga dengan pengayaan hati. Ga pernah liat pastor atau bikkhu atau psikoterapis yang nyuruh umatnya untuk bebas bercemburu, kan?

Dalam tradisi Islam, waktu ada sahabat yang (saking cemburunya) ga ngizinin saudarinya menikah, Kanjeng Nabi bilang, "kalau kamu cemburu, Allah lebih mencemburui mereka."

Karena yang sebenarnya punya hak untuk mencemburui kita (sekaligus sumbernya semua obat) cuma Tuhan: Dia Pemilik Cipta, dari Awal sampai Akhir.

Lila

Kita semua ada jodohnya masing-masing, Seandainya jodoh sudah selesai, mau dicemburui sampai kiamatpun, apa yang dipisahkan Tuhan tak dapat disatukan cemburu.

Beruntunglah mereka yang hatinya cukup lapang untuk memuat Tuhannya; sampai matipun tak akan kesepian, apalagi kekurangan teman.

Beruntunglah mereka yang bahagia dengan apa yang telah ditetapkan, nyata atau tak kasat mata; karena hati yang kaya tak butuh ditambal janji, bukti atau benda. Amin.

Maal Allah

Catatan dari tahun ketiga berqurban bersama suami Kemarin kami keliling Jeddah. Dari selatan ke utara, dari ujung ke ujung kota ini — mene...