Sekali Lagi Tentang Garam

Suatu malam, mereka bising. Setan serumah menyesaki pelupuk mata setiap memejam. Lasak sekali. Lemari digeratak, ubin diderak, jendela dikerik.

Di tengah bingar kenduri mereka, tokoh film the Ring, alias Sadako, alias Kuntilanak, merangkak ke arahku dari ruangan sebelah, siap membekap.

Aku kesal. Belum lagi ngeri. Maka empat kali, di setiap sisi, garam dimantrai dan ditebar. Bismillahi Allahu Akbar. Sisi kanan dan kiri, lalu dekat kepala dan kaki.

Lalu hening. Lalu lelap. Sampai mimpi.

Garam

Setelah berhari-hari merasa dikalahkan di rumah sendiri, akhirnya turun juga wangsit pengusir kutu. "Garam!"

Kalau tak salah, sepekan sebelum wangsit itu turun, tiada hari berlalu tanpa kerja bakti. Ada kalanya kerja bakti itu berupa pengosekan ubin, atau membopong perabot keluar-masuk ruangan. Ada lagi dimana kerja bakti tersebut berupa kegiatan menggaruk gatal, sepanjang lengan dan kaki, sepanjang malam.

Anehnya, kutu itu pandai memilah lokasi dan potensi. Baik Kiki maupun Annisa tidak digigit. Sementara penulis kisah nestapa ini, meskipun bentolnya ratusan sebadan, kutu itu tetap tak sampai hati menggigit di tempat-tempat sensitif seperti wajah atau selangkangan. Seakan ada yang mengomando ke mana saja kutu itu boleh mencari makan. Mungkin karena itu Injil menyebutkan salah satu azab yang melanda bangsa Mesir di zamannya Nabi Musa berupa wabah kutu. Puji tasbih dan syukur. Kutu paling kupret tetap taat pada perintah Allah.

Makanya, ketika wangsit garam itu akhirnya turun, penulis sebenarnya sudah kehabisan ide, sehingga tidak mendebat lagi. Tapi, setelah sekian malam tak tidur, sekian hari berbakti, ia juga kelelahan. Meskipun wangsit itu meledak dalam kepalanya, "garamgaramgaram", meskipun renyem menggeletar, yang dituturi hanya menghela nafas dan menggumam, "Besok."

***

Garam, di ilmu sihir, adalah unsur penyerap dan pembersih. Di serial Supernatural, garam digunakan untuk membatasi ruangan dari serangan setan. Tapi di ilmu sihir sehari-hari, garam juga dapat menyerap energi penyembuh, jadi tak boleh berlebihan. Selain itu, karena 70% struktur manusia terbuat dari air, kelebihan garam tentu mematikan.

Tapi wangsit tak menjelaskan semua itu. Wangsit tak pernah bertele-tele. Ia hanya berbunyi sepatah kata atau dua, jelas dan cergas. Lalu sisanya terserah yang bersangkutan. Wangsit juga hanya muncul saat yang membutuhkan sudah berusaha semampunya, dengan segala cara dari semua arah. Lagipula, berkat tabiat manusia yang serba ngeyel, seandainya belum sampai batas putus asa, mungkin wangsit paling sakti pun tak bakal dituruti. Mungkin. Siapa tahu.

***

Yang penulis ketahui, keesokan harinya ia membeli beberapa bungkus garam dapur. Harganya kurang dari Rp 2000 per bungkus. Sebungkus diletakkan dalam mangkuk, lalu sejumput-sejumput ditebar sekitar lawang-lawang rumah. Dengan niat memagari, setiap jumput diwiridi: Bismillahi Allahu Akbar; wirid yang dibaca saat melempar jumroh di Mina. Sebungkus lagi diisikan dalam kaus kaki, diikat jadi berupa bantal. Bantal garam itu lalu diletakkan di atas kepala penulis, lalu ia duduk meditasi.

Dibanding proses mengosek ubin, efek garam bekerja sangat cepat. Lima menit kemudian penulis merasa perutnya digigit. Ketika kausnya disingkap, ratu kutu membalas pandang. Untuk memastikan, Ratu kutu itu dipites jadi tiga bagian. Lalu disapu ke luar rumah.

***

Malamnya, Wawung mimpi melihat bala kutu saling memanggil, "Berangkat, berangkat, berangkat..." dan ratu mereka, kutu terbesar serumah, melambai dari kejauhan, menjauh dari rumah.

Petualangan Ibu Sebelum Ulang Tahunnya Yang Kelimapuluh-lima

Sekali, tanpa bilang-bilang sama kita, Ibu berangkat haji dan jalan kaki dari Arafah ke Muzdalifah ke Mina. Jaraknya sekitar 11 kilometer. Ini terjadi 2-3 tahun yang lalu. Jadi usianya Ibu saat itu awal-awal limapuluhan.

Kegiatan sinting itu memicu kegiatan abnormal di rumah kami yang pertama. Padahal saat itu Ibu udah menopause. Adik-adikku jungkir, aku balik. Ibu malah ga mau diapa-apain. Katanya, Ibu lebih seram ama jarum, bedah dan dokter daripada kemungkinan terburuk atau kepastian paling pasti.

Kita mati gaya dan mundur beberapa tradisi: Ibu dipencet, dielus, didoakan sebagaimana orang JawaSundaBatakMadura percaya. Sudah.

Seandainya takhayul adalah penyakit, kepercayaan terhadapnya adalah obat. Buktinya Ibu sembuh. Masih keluyuran pulak. Saat terjemahan ini ditulis sebagai kado ulangtahunnya, ga ada dari anak-anaknya yang yakin posisinya Ibu di mana: Jeddah, Mekkah apa Madinah. Masih melayani Tamu sampai sekarang.

Semoga Ibu panjang umur sampai 40 tahun lagi kalau tetap sehat, ga lebih lama kalau ga sehat. Hidup terlalu lama sebagai anak yang terbalik juga berat. Tuhan penuh rahmat.

***

Beberapa kali juga, saat usianya Ibu baru tigapuluhan, kita baru bisa jalan dan duit di rumah baru receh segenggam, Ibu ngumpulin kita di bawah meja makan. Keluarga pelayan mainnya juga seputar pelayanan. Meja makan jadi kemah, kita bertiga jadi jemaah, Ibu kepala maktab yang menyediakan makan. Sesuap Yaya, sesuap Ade, sesuap Anggi, terus mengulen kue lagi. Kue itu nantinya dijual ke orang-orang yang haji dan bukan haji, terus dari mulut mereka muncul mantra yang menyulap kue jadi seragam sekolah atau thob lebaran.

Beberapa kali juga, lebih sering daripada kami mampu mengenang, Ibu mengangkut kami dari bawah “kemah” ke ranjang. Terus Ibu lanjut mengulen sambil mengawasi jendela yang menghadap lawang depan, menantikan Babah pulang sampai larut malam. Kadang Ibu duduk dalam kesendirian mencekam, dirambati ketakutan dari jemari ke bahu, dari jari ke paha: Babah ke mana? Kenapa telat? Seandainya pintu gerbang terbuka tapi yang muncul di baliknya sesuatu selain Babah...

..Tau? Generasi sebelum telpon cerdas dan jaringan internet mampu mengingat lebih erat karena kengerian dan kebahagiaan terjadi sepenuh indera dan kesadaran. Semua dilihat, dirasakan, didengar, diucapkan, dicium langsung, bukan rembesan kesan yang disaring jaringan maupun layar selular. Jarak antara senang dan sedih hanya selawang yang terbuka atau tertutup. Pasrah pada yang ghaib dan nasib. Sekalinya terjadi, itulah yang jadi...

***

Terjadilah yang terjadi, suatu kali Ibu jadi Ninik. Dan kami Amma dan Ammi, pendongeng bagi keponakan. Dongeng tentang hal-hal sinting yang masih mungkin terjadi sebelum datangnya kepastian yang paling pasti. Selama kue masih diulen. Dan jarak hanya sepanjang jalan.

*Selamat Ulang Tahun, Ibu.

**Translating that from Arabic came out so smoothly. Ga pake mikir sama sekali. Tanpa kehilangan konteks emosional, nyaris kata per kata cuma dibalik Arab-Indonesia. Google Translate aja bisa nerjemahin kalau bisa bahasa prokem. Aku bertanya-tanya. Mungkin karena kedua bahasa ini, Indonesia dan Arab, lebih doyan mendongeng oral daripada yang satunya lagi. Atau emang penulisnya aja yang norax.

Yang Tak Bakal Lunas

"Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." ~ Al-Qur'an 02:261

Pernah sekali, seorang tukang pijat pergi motokopi dokumen di sebuah pasar di Jakarta. Dokumen-dokumennya dalam bahasa Arab, jadi saat membayar ongkos fotokopi (Rp 11'000), tukang fotokopinya nanya-nanya. Ujung-ujungnya, tukang pijat terpojok membela diri: "Nggak! Aku ga ngurusin perdagangan budak ke Arab." -- Sekaligus ngaku-ngaku tukang pijat sebagai pembelaan.

Ada orang-orang yang dosa mulut dan hatinya dibayar kontan dengan badan. Sekalinya salah ucap atau buruk niat, langsung kualat. Begitu tahu profesi kliennya adalah memijat, tukang fotokopi langsung curhat. Terus minta dipijat. Karena ga mau menambahkan dosa mulutnya, tukang pijat menurut sambil diam mendengarkan omelan dalam kepalanya.

"Siapa suruh juga buka mulut. Orang macam apa yang tersinggung cuma gara-gara kertas? Tukang fotokopi tadi hanya buka obrolan; itu bagian dari pekerjaan para pedagang. Bukan pekerjaanmu untuk menjual pembelaan. Seandainya tadi hanya mengangguk sopan, tak bakal kerja bakti dadakan di tengah pasar, pas tengah hari bolong."

Ketika selesai memijat pasaran ("Terima kasih, Gusti, atas pelajaran tentang kerendahan hati,") tukang pijat memohon diri. Tukang fotokopi malah menahannya lagi. Tak disangka-sangka, ia menyodorkan selembar Rp 10'000 ke tangan tukang pijat yang gelagepan menolak.

"Ini bayaranmu,” kata tukang fotokopi. “Tolong diterima. Kami juga tak ingin berhutang."

Tukang pijat terharu. "Tak ada kebaikan yang lunas. Semoga dibalas berkali-lipat. Amin."

Nama & Makna

Saat ruh kudus hendak dititipkan ke karyaNya yg terakhir, para ajudan berkomentar: “Tak sayang? Diberi kebebasan setitik nanti malah ingkar sebelanga.”

Gusti Pangeran bilang, Gapapa, variasi juga indah. Lalu Gusti memberinya bahasa. Kebebasan untuk memberi nama dan makna bagi karyaNya yang lain.

Maka setiap ciptaanNya menjadi mainan bagi yang memberinya nama dan makna.

Cobaan sebatas kemampuan memberi nama, sebatas wadah badan dan pikirannya. Susah atau senang sama-sama cobaan. Sama-sama sementara. Sekedar nama dan makna.

Wadah kita sempit-luas sebatas rasa syukur. Gusti Pangeran bilang, Makin bersyukur, makin ditambahin. (Ditambahin ama cobaan yang enak-enak atau yang susah-susah, Gusti ga bilang.)

Makin bersyukur, makin banter dicoba. Mungkin makin susah, mungkin juga makin enak. Tapi kalau ga bersyukur, ya kualat. Wadahnya jadi bantat. Sampai tamat.

Tapi ada yang bersyukur wadahnya meluas. Melampaui batas bahasa, tak bernama dan bias makna. Semua tak mengapa. Jalur ekspress menuju infinitum, alam bebas wadah.

Dimana asal segalanya berada, dimana semuanya akan berpulang. Singgasana Sang Pencipta.

Peri Laut

...kilau peraknya......centilnya.....marahnya.....mahkotanya...      ...kuasanya... ...kekayaannya...

Tadi siang kami makan di warung sate. Mestinya kemarin acara ini diadakan, seandainya tak terjadi halangan. Halangan awan tebal yang berputar di atas kepala Yaya. Yaya, karena berbagai alasan, selalu menerima undangan makan dengan wajah masam karena terpaksa basa-basi berkepanjangan.

Perjalanan pulang dari restoran, mobil mengambil jalur yang jauh berputar. Mampir ke kotamadya terdekat dengan Pantai Utara, kota Tegal. Aku baru mengerti maksudnya ketika bulu kudukku meremang.

Badan dan buntutnya terentang selebar cakrawala, dari Jakarta sampai Madura. Mahkotanya menyentuh batas langit. Kilaunya perak kebiruan. Nyai Ratu Pantai Utara hadir dengan segala kemegahan.

“Wan,” kataku, “Potongannya peri-peri laut memang standarnya segitu-gitunya saja?”

Wawung tak tega menjitak di mobil orang. Jadi hanya bergumam mengiyakan.

Beberapa kali melihat peri laut, ternyata mereka memang tidak kreatif berdandan. Kurang lebih seperti gambaran seniman-seniman di atas. Termasuk yang termasyhur di seluruh muka Bumi urban: Nyai Starbucks. Jika peri Starbucks saja – yang dipetik dari budaya Norwegia – penampilannya begitu, artinya mereka semua memang tampangnya segitu-gitunya.

Paling banter, beda perhiasan dan perangkat kebesaran. Tapi pakemnya sama.

Sambil memikirkan fesyen bangsa itu, aku melihat yang di sana mengecil lalu melilit di jari manis salah satu penumpang mobil kami. Peri itu tampak nyaman. Keruan saja, empunya tidak sadar jarinya dijadikan tunggangan.

Aku melengos, pantas saja maksa makan di warung sate sejak kemarin. “Kok mau Ratu Laut jadi penglaris dagangannya orang?”

“Satenya enak,” kata peri itu centil.

“Terus, kalau sudah bosan?”

“Ya pulang. Susah amat.”

***

Sampai di rumah, aku berceloteh tapi tak panjang lebar. Pengaruh peri itu sudah mulai bekerja, hatiku ringan ketika aku menghidangkan minuman untuk tamu dan ajudan.

Kata Peri Laut, “Mau-maunya membuatkan kopi untuk tamunya Tuan Guru.”

“Diam kamu. Menyebalkan.”

“Sudahlah, ikhlasi saja. Memang rejekinya mereka dapat kopi buatanmu. Kami juga begitu. Seandainya bukan rejeki dan mereka tak berusaha sekuatnya, sesakti apapun mantra, tak akan mempan.”

“Aku bilang…”

“Jangan dibilang. Ditulis saja. Ini kado kami untukmu yang membuatkan kopi dan babu rekan kami, Peri Dongeng.”

Tentang Ritual Tahunan: ITAS

Siapa yang lebih patut dikasihani, penulis yang dibekap polisi apa yang segitu bebasnya sampai kehabisan topik untuk dibahas? - Kurt Vonnegut

  • Di Indonesia, selain kartu ITAS, WNA memiliki Buku Biru. Buku ini mencatat perpanjangan ITAS hanya sampai 6 kali. Setelah itu penuh dan harus keluar permanen dari Indonesia, lalu aplikasi ITAS dari awal lagi.
  • Bagi WNA yang sangat beruntung dan memiliki anggota keluarga dekat (orangtua atau suami/istri), setelah 5 kali perpanjangan ITAS, boleh mengajukan permohonan ITAP.
  • Masa berlaku ITAP adalah 5 tahun. Setelah dua kali perpanjangan ITAP, boleh memohon netralisasi untuk menjadi WNI.
  • Bagi yang menikah dengan WNI, netralisasi untuk menjadi WNI hanya memakan waktu 3 tahun.
  • Mengurus sendiri proses aplikasi dan perpanjangan selalu lebih murah dan ringkas daripada mengutus orang lain. Di lingkungan imigrasi, WNA nekat tersebut dilabeli Ybs. Label ini dapat merubah panggilan dari “Mbak” ke “Ibu sendiri?! Kok nggak kayak orang bule?!”
  • Jika dokumennya lengkap, prosesnya singkat. Terakhir kali aku perpanjangan, hanya tiga kali masuk kantor imigrasi: Serah berkas. Bayar dan Foto. Ambil berkas. Sudah.
  • Jeda antara setiap kali ke kantor imigrasi: 2-4 hari kerja.
  • Ribet/Ringkas adalah relatif. Kali sebelumnya, perpanjangan tahun 2011, sponsorku dimintai surat keterangan "Belum Menikah" dengan pengukuhan setingkat kecamatan, karena Ybs. telah melewati usia 30 dan masih disponsori orang tua.
  • Tahun ini aku ditanyai berkali-kali, "Mbak belum menikah?" - Aku bilang, berkali-kali juga, "Saya di sini menemani orangtua. Kalau saya menikah, saya tidak jadi mengurusi orang tua. Yang ada malah mengurusi mertua, anaknya mertua, cucunya mertua. Kasihan saya punya orang tua. Lagipula saya ikhlas tidak menikah. Happy, malah."
  • (Aku cenderung sinting setiap kali memikirkan ribetnya kehidupan rumah tangga di mana-mana. Tapi itu cerita untuk lain kali.)
  • Disponsori keluarga jauh lebih murah daripada disponsori perusahaan. ITAS yang disponsori keluarga biayanya kurang dari Rp 1 juta/tahun. Untuk ITAS yang disponsori perusahaan, di atas Rp 15 juta/tahun, karena adanya pajak untuk Depnaker. Per tahun 2008, biaya tersebut sebesar $100/bulan, atau $1200/tahun.
  • (Harga temen?) 
  • Aku lupa apa saja berkas yang dibutuhkan untuk ITAS yang disponsori perusahaan. Untuk ITAS yang disponsori keluarga, ini format surat Permohonan Perpanjangan ITAS yang biasanya aku pakai - sekaligus lampiran berkas yang menyertai di catatan kakinya. Jangan lupa diberi materai.
  • Waktu pertama kali memohon ITAS yang disponsori keluarga, aku dimintai akte kelahiran sponsor untuk membuktikan keIndonesiaan Beliau. Karena berkas tersebut sudah hilang, diganti dengan Ijasah SD sponsor.
  • Sekali lagi, Ribet/Ringkas adalah relatif. Setiap tahun aku semakin menikmatinya, semakin mensyukurinya. Sekedar jalan-jalan sekitar Jakarta Selatan aja sih tidak ada apa-apanya dibanding harus dideportasi jalan-jalan ke Jeddah.

Aku wanita Saudi, bung. Take a moment to understand what that means. Aku sangat menikmati fasilitas yang tersedia bagi penghuni Indonesia. Menikmati bisa jalan kaki sendiri ke warung, naik KRL ke Depok dan Bogor, dan merokok kretek seharga lokal. Udah gitu Bali deket pulak.

  • Sebelum memegang ITAS, setiap bulan aku bolak-balik KL untuk beli Visa On Arrival di Bandara Cengkareng. Pernah ditampung mantan pacarku di sana. Pernah juga, setelah menyimpan koper di locker Bandara KLIA, tidur sendirian, semalaman di kursi tunggu. Rasanya seperti terperangkap di dalam mal setelah menonton filem tengah malam. Sepi sekali. Bahkan Panggilan Penerbangan bungkam setelah pukul 10 malam. Pulangnya dapat 38 bentol besar di seluruh badan, setelah semalaman dirubung bangsat.
  • Dibanding kesusahan dan kesepian semacam itu, keliling Jakarta Selatan, tidur di rumah sendiri dan ditelpon Wawung (ditanyai kapan pulang) saban hari selama proses perpanjangan ITAS, adalah surga dunia. Gue jabanin dengan ringan hati prosedur apa saja yang harus dijalani demi dapat menetap di negara ini barang setahun, sehari lagi.
  • Buku biruku habis tahun ini.

Perjalanan Ceritanya Andhika

Bahwa setiap dongeng sudah ada pendengarnya, setiap tulisan sudah ada pembacanya.

Andhika tinggal di Dubai. Waktu pulang ke Jakarta, pas kebetulan aku sedang di sana. Dia mampir ke rumah, membawa oleh-oleh sebuah cerita.

Karena perinya lagi mangkel, cerita itu aku cantumkan dalam blog seadanya.

Posting Terpendek 2012!Tadi pagi aku lihat ini:

pagi yang menyenangkan

Masing-masing dari tweep di atas diikuti oleh beberapa RIBU follower. Aku tidak tahu berapa orang yang akhirnya membaca cuplikan dialog itu. Data yang kumiliki hanya mencantumkan pembaca yang masuk ke blog:

blog stats

…tidak termasuk yang membaca twitpic dari retweeter yang followernya ada beberapa ribu orang tadi.

Tapi ini semua masih belum apa-apa.

Tadi pagi aku mengulang lagi ceritanya Andhika ke Wawung. Wawung ketawa. Ceritanya dicatat.

(Wawung tulisan tangannya luthuuuuuuuu!!)

Untuk didongengi lagi ke rakyat Jatibarang saat mengaji nanti. Rakyat yang masih taat pada kyai itu nantinya akan membawa gema cerita itu dalam hatinya ke rumahnya, ke keluarganya, ke sawahnya. Untuk lebih mendekatkan Tuhannya, dan membantu menjaga kebaikan generasi berikutnya.

Untuk menambah lagi pahala pendongengnya yang pertama, Andhika R. Basha.

Amin.

Manifestasi

"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan." ~ Roma 12:21

Tadi pagi Wawung cerita tentang ibu tiri yang membesarkannya.

Ibu kandung Wawung meninggal saat Wawung masih anak-anak. Ayahnya menikah lagi dengan, yang dibahasakan Wawung, Ibunya Ila. Ceritanya Wawung tentang malam meninggalnya Ibunya Ila membuatku terharu.

"Nangis ga, Wan?"
"Nggak."

Aku ketawa. Gimana mau nangis, wong saat memangku jasad Ibunya Ila, Ibunya Ila juga di situ memandanginya.

Pada dasarnya, semua orang bisa melihat setan dan arwah. Semua orang punya perangkat teknologi sel saraf yang mampu menembus alam sebelah. Teknologi saraf ini mungkin berbeda manifestasi. Ada yang manifestasinya dalam bentuk telepati, mimpi tanda, firasat, lihat setan.

Kalau alam ini saja dapat dirasakan, dimengerti dan dijelajahi dengan segala persyaratannya, apalagi alam sebelah yang telah ada sejak sebelum lahir? Segampang memejamkan mata.

Seperti semua ilmu dan keahlian, yang membuatnya tetap tajam adalah dengan tetap mengasahnya, mengamalkannya. Umumnya, karena didera pendidikan formal dan kebutuhan terhadap logika, indera ini lama terbengkalai. Jadi aus. Lalu terlupakan.

Sampai suatu saat kepepet (dan semua orang pasti bakal, suatu saat, kepepet sesak) menghadapi yang kasat mata, lalu meracau ke area luar-logika, area yang telah asing, area yang dulu ditingalkan karena sepi gengsi dan terbelakang, untuk dihiburi apa saja yang terasa menyenangkan.

Yang tak biasa selalu terpental, ‘kan?

Mungkin yang sial adalah orang yang tak kuat menghadapi manifestasi inderanya, lalu didera diagnosa kering dan aji-aji penumpul indera. Atau berlanjut dalam bentuk perilaku onar. Tapi yang beruntung juga bukan orang yang kuat dari sananya untuk menghadapi manifestasi indera, apalagi yang manifestasi inderanya terbuka dari semua jendela dan pintunya.

Yang beruntung yang diberi waktu untuk terbiasa secara perlahan dengan semua yang dimanifestasikan indera, baik yang halus maupun yang kasat mata. Lalu yang terbiasa bersyukur atas cinta semesta kepadanya, sampai-sampai sadar saat dikirimi guru pada setiap jendela dan pintu yang terbuka.

Beruntunglah dia yang menyadari kehadiran itu, dalam bentuk nasihat terselubung pada setiap pertemuan, baik dengan teman, kitab ataupun deduksi twiterriyyah. Beruntunglah dia yang menyadari adanya kehadiran yang membantunya memaknai, memasrahi dan mengamalkan apa yang telah tertera menjadi bagiannya dalam Kitab Takdir.

Sedikit demi sedikit. Sebatas syukur mengiringi kemampuan .

Metode Menjadi Kaya Dengan Menyupang

"Kekayaan pada umumnya mudah dicuri, kekayaan yang sesungguhnya tidak bisa. Dalam jiwa Anda terdapat sesuatu yang nilainya tiada tara yang tidak bisa diambil oleh siapa pun dari diri Anda." ~ Oscar Wilde

Okotber bulan Kesadaran Kanker Payudara.

Jadi, tadi pagi membahas operasi pengecilan dan pengencangan payudara dengan Wawung.

Kalau membicarakan payudara, Wawung selalu ujung-ujungnya cerita tentang Nyi Safad (bukan nama aslinya.)

Nyi Safad tinggalnya di pohon kunyit. Tinggi dan panjang. Saking panjang, tangannya menggapai sampai tanah. Payudara kanannya diselempangin ke bahu kiri. Payudara kirinya diselempangin di bahu kanan.

Suatu kali Wawung iseng memanggil Nyi Safad. Dipanggilnya pakai sajen kesenangan bangsanya: Candu. Nyi Safad, saking kesenangan dapat candu, tidak memerhatikan ada Wawung sedang mengendap-endap di belakangnya, memegang rokok tersulut. Isengnya Wawung sedang kambuh, rokok menyala itu disundut ke puting yang menggantung di punggung Nyi Safad.

Bagian ini, Wawung selalu lucu: Menggeliat-geliat dengan efek suara, "Eooow!" Nyi Safad terus menceburkan diri ke sungai terdekat.

Di antropologi bangsa jin, Nyi Safad termasuk Kasta Demit. Kasta penjaga rumah atau harta terpendam. Pergaulan antara manusia dengan Jin yang paling sering terjadi dengan kasta ini. Pohon Kunyit yang didiami Nyi Safad, misalnya, menyimpan emas.

Kalau manusianya cukup pintar dan kuat, Demit bisa diajak transaksi dagang. Setelah mereka hadir, tawarkan barter. Demit boleh dapat dagangan kita asal beli dengan uang atau harta. Beda sajen, beda demit. Misalnya pasang candu, yang datang Nyi Safad atau tuyul. Misalnya pasang hati gagak, yang datang kuntilanak atau genduruwo.

Siapa saja dengan metode di atas boleh transaksi dengannya. Saat memohonnya dari Allah, dari manapun rejeki itu datang, masih wajar, kan?

Yang tak wajar nafsunya manusia.

Setiap kali kita dengar cerita tentang orang menyupang, selalu ada "Precautionary note" pada akhir cerita itu. Ya anaknya mati, atau orang itu kesurupan, atau musibah sebesar-besarnya menghampiri. Kita sering dengar tentang orang-orang yang susah atau mati tak wajar setelah transaksi dengan bangsa itu.

Tapi bukan salah bangsa itu.

Bayangkan sinting yang pecah karena memegang bara sebelum bersarung dinginnya sengsara. Adakah kata "Cukup" melintas di bibir orang kalau soal harta? Segalak-galaknya setan, mereka tetap lebih rendah dari manusia. Yang salah, setiap kali, adalah manusia. Yang tak pernah puas. Yang terus-menerus kehabisan hartanya sebanyak apapun yang dipegang. Sampai gila. Gila harta.

Baru ingat. Oktober bulannya Samhain. Bulan dimana perbatasan antara alam menipis. Bulan panen. Selamat Halloween. Semoga kita ketiban harta terbaik, kesabaran sebesar Bumi yang tak pernah bosan berkeliling.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...