14.1.11

Mata

Saat matamu terkatup
Lepaslah kuasa sihir
Yang mengikat nafas dan syair
Dari silau yang mencekat alir

Berkediplah sesekali
Agar waktu segera beranjak
Tak terpaku memujamu
Dan bumi bergasing kembali

Berkediplah kali ini
Karena aku hendak pulang
Sebelum subuh mengguyurku
Basah kuyup mencintaimu

Oktober, 2006

12.1.11

Seleksi

Terjadi seleksi kehidupan di kebun belakang sejak Wawung sakit dan tak bisa berlama-lama menelateni tanaman kesayangannya. Sirih merah kucel, pisang abadi layu, jeruk keris kering dan dicabut. Sementara sulur sirih hijau melebat, gelombang cinta mengayun arogan…

---------

Semalam, gara-gara salah manajemen (baca: salah Yaya), tayangan acara menyangkut di TVRI Nasional. Terasa sekali sendunya. Kapan terakhir kita nonton acara TVRI? Waktu siapa saja yang masih hidup? Waktu siapa aja yang masih anak-anak?

Cuma gara-gara alat pengalih perhatian kami mati, mendadak kita berdua terperangkap dalam kenangan masa yang tak akan pernah kembali.

---------

Kebunnya beradaptasi. Antara tanaman yang mati dan yang hidup terjadi trend seleksi. Tangan AjudanOCD lebih cergas daripada tangan Wawung, tapi cintanya tetap besar. Karakter kebun belakang lebih tegar, menjauh dari kekemayuan. Yang mati ya mati, tapi yang bertahan tetap sehat dan penuh harapan karena tak tergantung perhatian setiap hari.

Tanaman maupun hati, yang tetap hidup adalah yang kuat menghalau kesepian masa yang tak akan pernah kembali.

Dan yang paling cekatan mengganti saluran televisi.

5.1.11

Wawancara Terakhir

Tadi pekerja Dhamma bilang, "Tuan dan Nyonya guru memanggilmu."

Ih. Seluruh tubuhku mengrenyit. "Dosa apalagi yang akan mereka bahas kali ini?"

"Tidak tahu. Tanyalah sendiri. Mudah-mudahan semuanya berakhir baik."

Hari terakhir retret meditasi. Seharian sejak sumpah bisu dilepas, banyak yag berkomentar soal jalan bebek mendem & kelakuan tak wajar. Seumur hidup juga begitu, dari SD sampai mampus, kelakuan yang tak wajar selalu menuntut penjelasan.

Biasanya orang tua bikin daftar dosa (seperti malaikat di bahu dan rapor di akhir semester) sebelum meluncurkan vonis atas kelakuan pengikutnya. Karena gaya jalanku seperti bebek mendem, sering ngomong sendiri dan sikukuh bisa lihat setan, guru-guru meditasi khawatir. "Kita ini lagi menangani orang gila beneran apa nggak ya?"

Mau tak mau kulitku melingkar lagi. Patah arang. Aduh, lama-lama gila beneran nih.

Nggak salah juga sih. Masyarakat butuh kewajaran. Karena yang tak wajar bisa saja berbahaya. Esentrik saja tak cukup untuk menjelaskan kelakuan aneh. Kalau cuma aneh, kan mestinya bisa dikuasai. Bisa dijelaskan logika. Bisa dirubah jadi lebih wajar.

Siapa juga mau dianggap wajar. Dikotomi manusia adalah untuk berharap dirinya dianggap spesial, unik tapi tetap maksa diterima masyarakat. Masalahnya, ada juga yang berkelakuan tak wajar karena memang tak muat di lingkup normalitas. Tak bisa basa-basi terlalu lama. Tak bisa tak ngomong sendiri. Sudahlah, tahu sendiri kan? Sudah banyak contoh manusia yang sial dengan keunikannya abnormalitasnya.

Aku mengeratkan genggaman di sekeliling kameraku. Lensa gede dan gugup diagnosa tak pernah bekerjasama dengan baik. Menarik nafas panjang, aku memelas dengan mata, "Just say it already."

"So I told my husband, let's google her," kata nyonya guru, "and we found your blog. And we found out that you're not really crazy. Everything weird about you is just the way you are. You're quite a reasonable person to start with. And we just called you here to confess that we've been reading your blog."

"Your grammar needs some help though," kata suaminya, senyumnya melebarkan senyum istrinya.

Tawaku pecah. Bukannya milih pembelaan malah bingung nyari respon yang baik untuk kesaksian: Bahwa blog kampret itu masih membalas budi penulisnya, meski telah berbulan-bulan ditelantarkan.

Nulis lagi ga ya?

26.11.10

Testing Image Settings on Windows Live Writer

  • Default Live Writer Image Placement

DSC_1057

  • Default Live Writer Album Placement

22.11.10

Silence Within

Did you know that people who don't hear the silence within talk the most? It's almost as if that silence filters between response & stimuli.

I just met a new friend at random. And he's a reporter and is supposed to be educated.."out-there" at least. And the guy has no silence within.

He has no understanding of the way the world silently and decisively works. He keeps responding, responding, responding.

And I look at the Timekeeper, and see his deep silence..and I wonder, is that what understanding does to people? It shuts them up?

Because if the Silence is where God's voice can be heard, then hearing His voice trumps all doubt and restlessness and anger?

...Dude...awesome shit, huh?


<B>PS.</b> This was another mobile-blogging testpost. Sent by email.
<B>PPS.</b> Was my one-way conversation with him.

21.11.10

satu maupun lainnya

Aku nulis ini di mobil. Lagi di jalan ke Jakarta. Berdua aja ama Udi, supir/ajudan dr jaman kita masih anak2.

Rencananya mau main. Ketemu teman yg datang dari Jeddah. Tiga hari. Dikasih mobil. Duit sekarung. Terus didoakan selamat sampai pulang.

Aku melamun. Gila, enak bener. Kerja ga punya. Keluar rumah sebulan sekali. Gaji udah lama ga megang. Tapi sekalinya ngeluyur, nongkrongnya di Jakarta Selatan. Mainannya haitek.

Udi: "Puas kan, mbak?"

Iya. Puas lahir batin. Tapi kalau dibandingkan...Katakanlah dibandingkan dengan teman-teman sebaya. Aku tekor banget: Ga bisa ngasih status pekerjaan tanpa dibilang bohong. Minimal ditertawakan. Tidak bisa nampang. Saat dijejerin sama kongkowanku, paling cepet dilewatin sales. Hahaha..

Udi mbletakin kepalaku. "Mbak, saya makan aja susah!"

Iya. Iya. Aku paham. Makanya ini juga aku lagi mikir. Seandainya aku punya karir di Jakarta, mungkin ga bisa bawa duit sekarung pas Sharifa & suaminya ke Jakarta. Atau enak aja nemenin Rifu pas dia ke Bali. Atau hadirin kawinannya Ade di Jeddah.

Seandainya aku jadi ibu rumah tangga juga mungkin pertimbangannya udah lain lagi. Seandainya jadi penulis pro, yang dibaca ribuan orang (daripada selusin) mungkin ga bisa nulis ringan gini. Paham maksudku?

Udi: "Yah, siapa tahu, mbak. Tahun ini gini, tahun depan kan lain lagi."

Iya, juga sih. Tapi kalaupun tahun depan berubah, nanti akan ketemu lagi enaknya, ketemu lagi nggak enaknya juga kan? Mau hidup yang gaya apa aja juga begitu, kan? Ada enaknya, ada ngga enaknya juga.

"Semoga semua yang mbak pengenin datang semua suatu hari nanti."

Amin. Tapi yg lebih penting lagi, apapun yg dikasih nantinya, semoga rasa syukur ini ga berkurang. Karena kita tidak tahu, mungkin apa yg kita pengenin bukan yg terbaik untuk...'Di, minggir bentar deh.

"Kenapa, sambungan BBnya kacau? Posting nanti sajalah, mbak. Kita lagi di tol. Gelap tauk!"

Bukan. Aku mabuk darat nulis sambil jalan...cepat...mingg..

*bunyipenuliskampunganmuntahdimobil*

10.11.10

Job Hazard

Dude just met a girl. They went home together and a while after start to make love.

When the dude enters her, he pumps for exactly 30 seconds. Then suddenly, he pulls completely out, rolls off, and lay beside her for 20 seconds.

Then he rolls back on.

He enters his woman. Starts making love for exactly 30 seconds, withdraws, rolls off, and takes his 20 second break.

After a few repeats, his woman started getting frustrated. "What the hell is the matter with you?"

He said, "Work reflex. My body does this all day at work."

And what is it that you do?

"Ngemis di lampu merah."

__________________________________________
Footnote:
1. Pengemis lampu merah boso enggrese opo?
2. Karya asli.
3. Ini adalah posting pertama dari Blackberry.

Maal Allah

Catatan dari tahun ketiga berqurban bersama suami Kemarin kami keliling Jeddah. Dari selatan ke utara, dari ujung ke ujung kota ini — mene...